Jumat, 02 Agustus 2013

kincir angin

Lama ku disisimu
Hanya kamu yang bisa
Melakukan semua itu
Caramu bicara, tatapan yang sengaja
Rasa selalu percaya
Manis tatap per tatap
Senyummu berbahasa, terima aku apa adanya
Indahku bersamamu
Hanya kau yang selalu dihatiku
Ku ingin slalu bersamamu

(Lanconiek – kamu)

Mungkin kalian termasuk anak yang beruntung bisa menikmati indahnya pasar di malam hari, menikmati semua permainan yang ada disana, bersama teman bahkan keluarga. Walaupun becek, ramai, bahkan gerimispun pasti rasa bahagia itu gak akan luntur. Naik permainan dari mulai kincir angin sampai yang lainnya aku tak hafal karena aku tak pernah merasakan apa yang kalian rasakan. Aku gak pernah tau apa rasanya didalam sana, aku hanya bisa melihat dari kejauhan banyak anak-anak sepantarku sangat bahagia didalam sana. Tertawa dengan gulali berwarna merah muda disetiap genggaman mereka. Kerlap kerlip lampu yang berwarna warni menambah riuh suasana disana. Sampai aku meminta papa untuk memberhentikan mobil untuk sekedar mampir disana. Tapi malah gas yang diinjak papa. Aku hanya bisa terus menatap mereka yang tertawa. Itu saat aku umur 8. Mulai dari hari itu aku selalu begitu setiap melihat pasar malam dengan segala macam permainan disana.
Aku sudah pernah naik bianglala di dufan, tapi impianku tetap sama. Aku pengen naik kincir angin di pasar malam. Sederhana.
Akhir bulan juli kemarin aku bisa merasakannya, setelah menunggu 11 tahun lamanya aku berhasil mewujudkannya sama kamu sebelum aku  kembali mengejar cita-cita di kutha budhaya. Merasakan apa yang ingin aku rasakan 11 tahun  lalu. Aku bahagia malam itu naik kincir angin yang di pasar malam, ya memang bahagia itu sederhana bukan?
Dengan 5000 rupiah aku bisa merasakannya, merasakan anak yang 11 tahun lalu tertawa dengan temannya sambil menggenggam gulali warna merah muda itu. Masih sangat jelas ingatanku dengan anak perempuan itu.


Rasanya beda sama yang di dufan.

Tidak ada komentar: